Selasa, 18 September 2012

DETERMINAN


DETERMINAN
Determinan adalah suatu fungsi tertentu yang menghubungkan suatu bilangan real dengan suatu matriks bujursangkar.

untuk mencari determinan matrik A maka,
detA = ad - bc
Sifat-Sifat Determinan
A.                               Determinan dengan Minor dan kofaktor

kofaktor dari a11 adalah
c11 = (-1)1+1M11 = (-1)1+1a22a33 x a23a32
kofaktor dan minor hanya berbeda tanda Cij=±Mij untuk membedakan apakah kofaktor pada ij adalah + atau - maka kita bisa melihat matrik dibawah ini

Begitu juga dengan minor dari a32

Maka kofaktor dari a32 adalah
c32 = (-1)3+2M32 = (-1)3+2 x a11a23 x a13a21
Secara keseluruhan, definisi determinan ordo 3x3 adalah
det(A) = a11C11+a12C12+a13C13

B.                                Determinan dengan Ekspansi Kofaktor Pada Baris Pertama
= a11(a22a33 - a23a32) - a12(a21a33 - a23a31) + a13(a21a32 - a22a31)
= a11a22a33 + a12a23a31 + a13a21a32 - a13a22a31 - a12a21a33 - a11a23a32

C.                                Determinan dengan Ekspansi Kofaktor Pada Kolom Pertama
Pada dasarnya ekspansi kolom hampir sama dengan ekspansi baris seperti di atas. Tetapi ada satu hal yang membedakan keduanya yaitu faktor pengali. Pada ekspansi baris, kita mengalikan minor dengan komponen baris pertama. Sedangkan dengan ekspansi pada kolom pertama, kita mengalikan minor dengan kompone kolom pertama.
Misalkan ada sebuah matriks A3x3
= a11(a22a33 - a23a32) - a21(a21a33 - a23a31) + a31(a21a32 - a22a31)
= a11a22a33 + a21a23a31 + a31a21a32 - a22(a31)2 - (a21)2a33 - a11a23a32
1.      Determinan Matriks Segitiga Atas
Jika A adalah matriks segitiga nxn (segitiga atas, segitiga bawah atau segitiga diagonal) maka adalah hasil kali diagonal matriks tersebut
Contoh


2.      Metode Cramer
jika Ax = b adalah sebuah sistem linear n yang tidak di ketahui dan det(A)≠ 0 maka persamaan tersebut mempunyai penyelesaian yang unik dimana A j adalah matrik yang didapat dengan mengganti kolom j dengan matrik b

R=Er...E2 E1 A
dan,
det(R)=det(Er)...det(E2)det(E1)det(EA)
Jika A dapat di-invers, maka sesuai dengan teorema equivalent statements , maka R = I, jadi det(R) = 1 ≠ 0 dan det(A) ≠ 0. Sebaliknya, jika det(A) ≠ 0, maka det(R) ≠ 0, jadi R tidak memiliki baris yang nol. Sesuai dengan teorema R = I, maka A adalah dapat di-invers. Tapi jika matrix bujur sangkar dengan 2 baris/kolom yang proposional adalah tidak dapat diinvers.


3.      Adjoin Matriks 3 x 3
Bila ada sebuah matriks A3x3
A = \begin{bmatrix} 3&2&-1\\ 1&6&3 \\ 2&4&0\\ \end{bmatrix}
Kofaktor dari matriks A adalah
C11 = -12 C12 = 6 C13 = -8
C21 = -4 C22 = 2 C23 = -8
C31 = 12 C32 = -10 C33 = 8

4.      Metode Sarrus

untuk mencari determinan matrik A maka,
detA = (aei + bfg + cdh) - (bdi + afh + ceg)
Metode Sarrus hanya untuk matrix berdimensi 3x3
kemudian hitung kofaktor dari matrix A
C11 = 12 C12 = 6 C13 = -16
C21 = 4 C22 = 2 C23 = 16
C31 = 12 C32 = -10 C33 = 16
menjadi matrix kofaktor

5.     Sistem Linear Dalam Bentuk Ax = λx
Dalam sistem aljabar linear sering ditemukan
     Ax = λx    ; dimana λ adalah skalar
sistem linear tersebut dapat juga ditulis dengan λx-Ax=0, atau dengan memasukkan matrix identitas menjadi
     (λI - A) x = 0


TUGAS ALJABAR


PERSAMAAN LINEAR DAN MATRIKS
A.  SISTEM PERSAMAAN LINEAR
z = 3Persamaan linear dapat dinyatakan sebagai matriks. Misalnya persamaan:
3x1 + 4x2 − 2 x3 = 5
x1 − 5x2 + 2x3 = 7
2x1 + x2 − 3x3 = 9

Penyelesaian persamaan linier dalam bentuk matriks dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu dengan eliminasi Gauss atau dapat juga dengan cara eliminasi Gauss-Jordan. Namun, suatu sistem persamaan linier dapat diselesaikan dengan eliminasi Gauss untuk mengubah bentuk matriks teraugmentasi ke dalam bentuk eselon-baris tanpa menyederhanakannya. Cara ini disebut dengan substitusi balik.
Sebuah sisitem persamaan linier dapat dikatakan homogen apabila mempunyai bentuk :
a11x1 + a12x2 + ... + a1nxn = 0
a21x1 + a22x2 + ... + a2nxn = 0
am1x1 + am2x2 + ... + amnxn = 0
Setiap sistem persamaan linier yang homogen bersifat adalah tetap apabila semua sistem mepunyai x1 = 0 , x2 = 0 , ... , xn = 0 sebagai penyelesaian. Penyelesaian ini disebut solusi trivial. Apabila mempunyai penyelesaian yang lain maka disebut solusi nontrivial.
Penyelesaian Persamaan Linear Dalam Bentuk Matriks
Bentuk Eselon-baris
Matriks dapat dikatakan Eselon-baris apabila memenuhi persyaratan berikut :
1.) Di setiap baris, angka pertama selain 0 harus 1 (leading 1).
2.) Jika ada baris yang semua elemennya nol, maka harus dikelompokkan di baris akhir dari   matriks.
3.) Jika ada baris yang leading 1 maka leading 1 di bawahnya, angka 1-nya harus berada lebih kanan dari leading 1 di atasnya.
4.) Jika kolom yang memiliki leading 1 angka selain 1 adalah nol maka matriks tersebut disebut Eselon-baris tereduksi

Maka mendapatkan 3 persamaan linier baru yaitu
x + 2y + z = 6
z          = 3
Kemudian lakukan substitusi balik maka didapatkan:
y + z = 3
y + 3 = 3
y = 0
x + 2y + z =6
x + 0 + 3 = 6
x = 3
Jadi nilai dari x = 3, y = 0,dan
Operasi Eliminasi Gauss-Jordan
Eliminasi Gauss-Jordan adalah pengembangan dari eliminasi Gauss yang hasilnya lebih sederhana. Caranya adalah dengan meneruskan operasi baris dari eliminasi Gauss sehingga menghasilkan matriks yang Eselon-baris tereduksi. Ini juga dapat digunakan sebagai salah satu metode penyelesaian persamaan linear dengan menggunakan matriks. Caranya dengan mengubah persamaan linear tersebut ke dalam matriks teraugmentasi dan mengoperasikannya. Setelah menjadi matriks Eselon-baris tereduksi, maka langsung dapat ditentukan nilai dari variabel-variabelnya tanpa substitusi balik.
Contoh: Diketahui persamaan linear
x + 2y + 3z = 3
2x + 3y + 2z = 3
2x + y + 2z = 5
Tentukan Nilai x, y dan z
Jawab:
Bentuk persamaan tersebut ke dalam matriks:
\begin{bmatrix}1 & 2 & 3 & 3\\2 & 3 & 2 & 3\\2 & 1 & 2 & 5\\\end{bmatrix}
Operasikan Matriks tersebut
\begin{bmatrix}1 & 2 & 3 & 3\\0 & -1 & -4 & -3\\2 & 1 & 2 & 5\\\end{bmatrix}Baris ke 2 dikurangi 2 kali baris ke 1
\begin{bmatrix}
1 & 2 & 3 & 3\\
0 & -1 & -4 & -3\\
0 & -3 & -4 & -1\\
\end{bmatrix}Baris ke 3 dikurangi 2 kali baris ke 1
\begin{bmatrix}1 & 2 & 3 & 3\\0 & -1 & -4 & -3\\0 & 0 & 8 & 8\\\end{bmatrix}Baris ke 3 dikurangi 3 kali baris ke 2
\begin{bmatrix}1 & 2 & 3 & 3\\0 & 1 & 4 & 3\\0 & 0 & 1 & 1\\\end{bmatrix}Baris ke 3 dibagi 8 dan baris ke 2 dibagi -1
\begin{bmatrix}1 & 2 & 3 & 3\\0 & 1 & 0 & -1\\0 & 0 & 1 & 1\\\end{bmatrix}Baris ke 2 dikurangi 4 kali baris ke 3
\begin{bmatrix}1 & 2 & 0 & 0\\0 & 1 & 0 & -1\\0 & 0 & 1 & 1\\\end{bmatrix}Baris ke 1 dikurangi 3 kali baris ke 3
\begin{bmatrix}1 & 0 & 0 & 2\\0 & 1 & 0 & -1\\0 & 0 & 1 & 1\\\end{bmatrix}Baris ke 1 dikurangi 2 kali baris ke 2 (Matriks menjadi Eselon-baris tereduksi)
Maka didapatkan nilai dari x = 2, y = -1,dan z = 1



B.  MATRIKS
1.   Operasi dalam matriks
Dua buah matriks dikatakan sama apabila matriks-matriks tersebut mempunyai ordo yang sama dan setiap elemen yang seletak sama. Jika A dan B adalah matriks yang mempunyai ordo sama, maka penjumlahan dari A + B adalah matriks hasil dari penjumlahan elemen A dan B yang seletak. Begitu pula dengan hasil selisihnya. Matriks yang mempunyai ordo berbeda tidak dapat dijumlahkan atau dikurangkan. Jumlah dari k buah matriks A adalah suatu matriks yang berordo sama dengan A dan besar tiap elemennya adalah k kali elemen A yang seletak. Didefinisikan: Jika k sebarang skalar maka kA = A k adalah matriks yang diperoleh dari A dengan cara mengalikan setiap elemennya dengan k. Negatif dari A atau -A adalah matriks yang diperoleh dari A dengan cara mengalikan semua elemennya dengan -1. Untuk setiap A berlaku A + (-A) = 0. Hukum yang berlaku dalam penjumlahan dan pengurangan matriks :
a.) A + B = B + A
b.) A + ( B + C ) = ( A + B ) + C
c.) k ( A + B ) = kA + kB = ( A + B ) k , k = skalar
Hasil kali matriks A yang ber-ordo m x p dengan matriks B yang berordo p x n dapat dituliskan sebagi matriks C = [ cij ] berordo m x n dimana cij = ai1 b1j + ai2 b2j + ... + aip bpj
Ø      Matriks Balikan (Invers)
JIka A dan B matriks bujur sangkar sedemikian rupa sehingga A B = B A = I , maka B disebut balikan atau invers dari A dan dapat dituliskan B = A^{-1}( B sama dengan invers A ). Matriks B juga mempunyai invers yaitu A maka dapat dituliskan A = B^{-1}. Jika tidak ditemukan matriks B, maka A dikatakan matriks tunggal (singular). Jika matriks B dan C adalah invers dari A maka B = C.
Matriks A = \begin{bmatrix}a & b \\c & d \\\end{bmatrix}dapat di-invers apabila ad - bc ≠ 0
Dengan Rumus =      
A^{-1} = \frac{1} {ad-bc}\begin{bmatrix}d & -b \\-c & a \\\end{bmatrix} = \begin{bmatrix}\frac{d} {ad-bc} & -\frac{b} {ad-bc} \\-\frac{c} {ad-bc} & \frac{a} {ad-bc} \\\end{bmatrix}
Apabila A dan B adalah matriks seordo dan memiliki balikan maka AB dapat di-invers dan (AB)^{-1} = B^{-1} A^{-1}
Contoh 1:
Matriks
A = \begin{bmatrix}2 & -5 \\-1 & 3 \\\end{bmatrix}dan B = \begin{bmatrix}3 & 5 \\1 & 2 \\\end{bmatrix}
AB = \begin{bmatrix}2 & -5 \\-1 & 3 \\\end{bmatrix}\begin{bmatrix}3 & 5 \\1 & 2 \\\end{bmatrix}= \begin{bmatrix}1 & 0 \\0 & 1 \\\end{bmatrix}= I (matriks identitas)
BA = \begin{bmatrix}3 & 5 \\1 & 2 \\\end{bmatrix}\begin{bmatrix}2 & -5 \\-1 & 3 \\\end{bmatrix}= \begin{bmatrix}1 & 0 \\0 & 1 \\\end{bmatrix}= I (matriks identitas)
Maka dapat dituliskan bahwa B = A^{-1}(B Merupakan invers dari A)
Ø      Transpose Matriks
Yang dimaksud dengan Transpose dari suatu matriks adalah mengubah komponen-komponen dalam matriks, dari yang baris menjadi kolom, dan yang kolom di ubah menjadi baris.
Contoh:
Matriks
A = \begin{bmatrix}2 & -5 & 1\\-1 & 3 & 3\\5 & 4 & 8\\\end{bmatrix}ditranspose menjadi AT = \begin{bmatrix}2 & -1 & 5\\-5 & 3 & 4\\1 & 3 & 8\\\end{bmatrix}





Matriks
B = \begin{bmatrix}1 & 3 & 5 & 7\\9 & 5 & 7 & 4\\4 & 1 & 5 & 3\\\end{bmatrix}ditranspose menjadi BT = \begin{bmatrix}1 & 9 & 4\\3 & 5 & 1\\5 & 7 & 5\\7 & 4 & 3\\\end{bmatrix}

Rumus-rumus operasi Transpose sebagai berikut:
1. ((A)^T)^T = A
2. (A+B)^T = A^T + B^Tdan (A-B)^T = A^T - B^T
3. (kA)^T = kA^Tdimana k adalah skalar
4. (AB)^T = B^T A^T


Ø      Matriks Diagonal, Segitiga, dan Matriks Simetris
Matriks Diagonal
Sebuah matriks bujursangkar yang unsur-unsurnya berada di garis diagonal utama dari matriks bukan nol dan unsur lainnya adalah nol disebut dengan matriks diagonal.
Contoh :
\begin{bmatrix}1 & 0\\0 & -5\\\end{bmatrix}
\begin{bmatrix}1 & 0 & 0\\0 & -5 & 0\\0 & 0 & 1\\\end{bmatrix}
\begin{bmatrix}1 & 0 & 0 & 0\\0 & 1 & 0 & 0\\0 & 0 & 1 & 0\\0 & 0 & 0 & 1\\\end{bmatrix}
secara umum matriks n x n bisa ditulis sebagai
\begin{bmatrix}d_1 & 0 & \cdots & 0\\0 & d_2 & \cdots & 0\\\vdots & \vdots &  & \vdots\\0 & 0 & \cdots & d_n\\\end{bmatrix}

Matriks diagonal dapat dibalik dengan menggunakan rumus berikut :
D^{-1}=\begin{bmatrix}1/d_1 & 0 & \cdots & 0\\0 & 1/d_2 & \cdots & 0\\\vdots & \vdots &  & \vdots\\0 & 0 & \cdots & 1/d_n\\\end{bmatrix}
DD^{-1}=D^{-1}D=I
jika D adalah matriks diagonal dan k adalah angka yang positif maka
D^{k}=\begin{bmatrix}d_1^k & 0 & \cdots & 0\\0 & d_2^k & \cdots & 0\\\vdots & \vdots &  & \vdots\\0 & 0 & \cdots & d_n^k\\\end{bmatrix}
Contoh :
A=\begin{bmatrix}1 & 0 & 0\\0 & -3 & 0\\0 & 0 & 2\\\end{bmatrix}
maka
A^5=\begin{bmatrix}1 & 0 & 0\\0 & -243 & 0\\0 & 0 & 32\\\end{bmatrix}


Matriks Segitiga
Matriks segitiga adalah matriks persegi yang di bawah atau di atas garis diagonal utama nol. Matriks segitiga bawah adalah matriks persegi yang di bawah garis diagonal utama nol. Matriks segitiga atas adalah matriks persegi yang di atas garis diagonal utama nol.
Matriks segitiga
\begin{bmatrix}a_{11} & a_{12} & a_{13} & a_{14}\\0 & a_{22} & a_{23} & a_{24}\\0 & 0 & a_{33} & a_{34}\\0 & 0 & 0 & a_{44}\\\end{bmatrix}
Matriks segitiga bawah
\begin{bmatrix}a_{11} & 0 & 0 & 0\\a_{21} & a_{22} & 0 & 0\\a_{31} & a_{32} & a_{33} & 0\\a_{41} & a_{42} & a_{43} & a_{44}\\\end{bmatrix}
Teorema                 
·      Transpos pada matriks segitiga bawah adalah matriks segitiga atas, dan transpose pada matriks segitiga atas adalah segitiga bawah.
·      Produk pada matriks segitiga bawah adalah matriks segitiga bawah, dan produk pada matriks segitiga atas adalah matriks segitiga atas.
·      Matriks segitiga bisa di-inverse jika hanya jika diagonalnya tidak ada yang nol.
·      Inverse pada matriks segitiga bawah adalah matriks segitiga bawah, dan inverse pada matriks segitiga atas adalah matriks segitiga atas
Contoh :
Matriks segitiga yang bisa di invers
A =
\begin{bmatrix}1 & 3 & -1\\0 & 2 & 4\\0 & 0 & 5\\\end{bmatrix} 


Inversnya adalah
A^{-1}=\begin{bmatrix}1 & -3/2 & 7/5\\0 & 1/2 & -2/5\\0 & 0 & 1/5\\\end{bmatrix}

Matriks yang tidak bisa di invers

B =\begin{bmatrix}3 & -2 & 2\\0 & 0 & -1\\0 & 0 & 1\\\end{bmatrix}

Matriks Segitiga
Matriks kotak A disebut simetris jika A = A^T
Contoh matriks simetris
\begin{bmatrix}7 & -3 \\-3 & 5 \\\end{bmatrix}
\begin{bmatrix}1 & 4 & 5\\4 & -3 & 0\\5 & 0 & 7\\\end{bmatrix}
Teorema
·         Jika A dan B adalah matriks simetris dengan ukuran yang sama, dan jika k adalah scalar
 maka
*               adalah simetris A + B dan A - B adalah simetris kA adalah
 simetris (AB)^T = B^T A^T = BA
Jika A adalah matriks simetris yang bisa di inverse, maka A^{-1}adalah matriks simetris.
Asumsikan bahwa A adalah matriks simetris dan bisa di inverse, bahwa A = A^Tmaka :
(A^{-1})^T = (A^T)^{-1} = A^{-1}
Yang mana membuktikan bahwa A^{-1}adalah simetris.
Produk AA^Tdan A^TA
 (AA^T)^T =  (A^T)^TA^T = AA^Tdan (A^TA)^T = A^T(A^T)^T = A^TA
Contoh
A adalah matriks 2 X 3
A = \begin{bmatrix}1 & -2 & 4\\3 & 0 & -5\\\end{bmatrix}
lalu
 A^TA= \begin{bmatrix}1 & 3 \\-2 & 0\\4 & -5 \\\end{bmatrix}\begin{bmatrix}1 & -2 & 4\\3 & 0 & -5\\\end{bmatrix}= \begin{bmatrix}10 & -2 & 11\\-2 & 4 & -8\\-11 & -8 & 41\\\end{bmatrix}

AA^T= \begin{bmatrix}1 & -2 & 4\\3 & 0 & -5\\\end{bmatrix}\begin{bmatrix}1 & 3 \\-2 & 0\\4 & -5 \\\end{bmatrix}= \begin{bmatrix}21 & -17 \\-17 & 34\\\end{bmatrix}
Jika A adalah Matriks yang bisa di inverse, maka AA^Tdan A^TAjuga bisa di inverse

APLIKASI
Operasi Baris Elementer (OBE) sendiri adalah operasi pengubahan nilai elemen matrik berdasarkan barisnya, tanpa mengubah matriknya. OBE pada baris ke-i+k dengan dasar baris ke-i dapat dituliskan dengan :
Dimana c : konstanta pengali dari perbandingan nilai dari elemen ai,i dan ai+k,i
Algoritma :
(1) Masukkan Matrik A dan H
(2) Hitung Matriks Segitiga Bawah
(3) Hitung solusi Matriks A dan H
Listring Program :
/* Contoh soal Metode Eliminasi Gauss untuk penyelesaian Persamaan Linier Serentak
(PLS). Metode Komputasi 2009 */
/* Nama Program : eliminasi_gauss.cpp */
/* Untuk penyelesaian Matriks n x n */
#include
#include
#include
void main()
{
int a=1, b=3, c=5, j=1,
d=2, e=7, f=16, k=4,
g=4, h=14, i=33, l=10;
float A11, A12, A13, A21, A22, A23, A31, A32, A33, x1, x2, x3, H11, H21, H31;
cout << “\n\nMetode Eliminasi Gauss Matriks untuk PLS\n”;
cout << “========================================\n\n”;
/* Nilai Matriks A (3 x 3) dan H (3 x 1) */
/*********************************************************/
cout << “\nNilai Matriks A (3 x 3)\n”;
cout << “——————————————\n\n”;
cout<<”| 1 3 5 |\n\n”;
cout<<”| 2 7 16 |\n\n”;
cout<<”| 4 14 33 |\n\n”;
cout <<”\nNilai Matriks H (3 x 1)\n”;
cout << “——————————————\n\n”;
cout<<”| 1 |\n\n”;
cout<<”| 4 |\n\n”;
cout<<”| 10 |\n\n”;
cout <<”Tekan Enter untuk lanjutkan proses berikutnya ….\n”;
cout <<”(Matriks A dan H sebelum proses Eliminasi Gauss)\n\n”;
getch();